Jumat, 29 Maret 2013

Penerapan hukum kekekalan energi pada kompor listrik


Kali  ini saya akan membahas tentang tugas kelompok KPST. Tugas yang kami kerjakan 
ini yaitu tentang menggunakaan konsep sains dalam percobaan yang kami lakukan. 

Kekekalan Energi

Landasan teori
Hukum kekekalann energi mengatakan bahwa energi tidak dapat di ciptakan atau 
di musnahkan, tetapi energi dapat di rubah bentuknya. Sebagai contoh energi 
listrik di ubdah menjadi energi panas.

Penjelasan
Kompor listrik adalah sebuah alat yang digunakan untuk memasak yang tidak perlu
menggunakan bahan bakar fosil, alat ini hanya memerlukan listrik sebagai sumber
yang dapat dirubah menjadi energi panas.


Kami melakukan dalam bentuk kelompok dan anggota kelompok kami ada :


Berikut beberapa file yang berhubungan dengan percobaan yang kami lakukan :


Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energy tidak dapat diciptakan atau 
dimusnahkan tetapi energi dapat diubah bentuknya. Sebagai contoh energi listrik 
dapat diubah menjadi energi panas.Butuh 2 konduktor yang terbuat dari bahan 
berbeda.Jika dua buah bahan konduktor berdekatan satu dengan yang lain dan 
dihubungkan dengan sumber arus listrik,maka perubahan arus pada salah satu 
konduktor akan menginduksi gaya gerak listrik pada konduktor yang lain 
pertistiwa ini disebut induksi listrik.

Menurut hukum faraday, ggl induksi dihasilkan oleh medan magnet yang berubah. 
Hal ini juga berkaitan dengan hukum faraday yang menyatakan bahwa ggl induksi 
selalu membangkitkan arus yang medan magnetnya berlawanan dengan asal 
perubahan fluks. Sehingga konduktor dapat menyebarkan energi panas ke segala 
arah dan juga disebabkan karena bentuknya yang melingkar yang menyerupai 
huruf U.

KESIMPULAN

Pada percobaan kali ini kami dapat menyimpulkan bahwa alat ini merupakan 
rangkaian sederhana dari rangkaian listrik yang dapat mengubah energy listrik 
menjadi energy panas. Hal ini dilakukan melalui suatu cara yaitu induksi 
lektormagnetik(listrik),yaitu fenomena terjadinya tegangan listrik atau arus listrik pada 
suatu konduktor yang disebabkan oleh pengaruh medan magnet yang timbul akibat 
adanya arus listrik yang mengalir pada konduktor lain.

Kebudayaan ,Peradaban ,dan teknologi


a. Kebudayaan
Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek : 1. Kehidupan Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu Pengetahuan.

b. Peradaban
Peradaban adalah memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”: dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial.
Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan … kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya.

C. Teknologi
Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri. Sebagian beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. Namun, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri. Dan teknologi merupakan perkembangan suatu media / alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah.

Metode Ilmiah dan Perkembangan ilmu pengetahuan


Sekarang saya akan membahas tentang metode ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan.Pertama metode ilmiah.Apa yang dimaksud dengan metode ilmiah itu sendiri?
Metode ilmiah merupakan cara para ilmuwan untuk memecahkan suatu masalah yang ada. Di dalam metode ilmiah sendiri ada beberapa bagian yang harus diperhatikan, yaitu :
  1. Pertanyaan
  2. Hipotesis : jawaban sementara yang perlu dibuktikan lagi kebenarannya.
  3. Variabel bebas
  4. Variabel terikat
  5. Variabel kontrol
  6. Grup kontrol
  7. Data
  8. Kesimpulan
  9. Mempublikasikan hasil
  10. Diuji ulang (oleh peneliti yang lain)
Lalu, perkembangan ilmu pengetahuan. Kebudayaan manusia ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat yang merupakan akibat peran serta pengaruh dari pemikiran filsafat Barat. Pada awal perkembangannya, yakni zaman Yunani Kuno, filsafat diidentikkan dengan ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah antara pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan tidak dipisah, sehingga semua pemikiran manusia yang muncul pada zaman itu disebut filsafat. Pada abad Pertengahan, filsafat menjadi identik dengan agama, sehingga pemikiran filsafat pada zaman itu menjadi satu dengan dogma gereja. Pada abad ke-15 muncullah Renaissans kemudian disusul oleh Aufklaerung pada abad ke-18 yang membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Pada masa ini filsafat memisahkan diri dari agama, sehingga membuat orang berani mengeluarkan pendapat mereka tanpa takut akan dikenai hukuman oleh pihak gereja. Filsafat zaman modern tetap sekuler seperti zaman Renaissans, yang membedakan adalah pada zaman ini ilmu pengetahuan berpisah dari filsafat dan mulai berkembang menjadi beberapa cabang yang terjadi dengan cepat. Bahkan pada abad ke-20, ilmu pengetahuan, mulai berkembang menjadi berbagai spesialisasi dan sub-spesialisasi.

1.Scholastic Paradigm
2.The Renaissance Paradigm
3.The Mechanistic World and Determinism

Jumat, 22 Maret 2013

Ngaspal lagi breww...

Lama gak cerita tentang pengalaman touring, apalagi sekarang udah di daerah jawa barat. Tepatnya di Bandung. Lebih tepatnya lagi sekarang lagi kuliah di Bandung. soo pasti banyak pengalaman baru yang perlu di ceritakan. hehe. Awal mula di bandung sih sebenernya masih adaptasi dulu. ya gara" sekarang lebih jauh dari kampung halaman sama orang tua jadi perlu adaptasi sedikit lah.

Pengalaman ngaspal pertama d jawa barat tuh ke cipatujah daerah selatan tasikmalaya. Disini pula terasa jiwa brotherhood antar sesama anggota atau pun sesama penunggang motor, awal mula perjalanan sih saya start dari jalan soekarno hatta soalnya sekalian nunggu brother dari Byonic Cimahi kebetulan juga arahnya ke arah timur. Setelah beberapa brother datang langsung engine start go to cipatujah. Ini nih yang bikin seneng selama perjalanan, jalanan yang berbelok dan naik turun ciri khas dari daerah  jawa barat menguji adrenalin selama di atas mesin 153 cc. Sayang banget gak sempat ambil foto di daerah yang berbukit-bukit ciri khas daerah jawa barat karena emang terburu-buru. Soalnya sebagian anggota Byonic Cimahi udah start dari pagi hari, jadi ceritanya aku nyusul sama beberapa brother pas siangnya hehe. Perjalanan kira" di tempuh sekitar 4,5 jam itu pun istirahat dulu di rest area pom bensin gara" cuacu terik siang hari yang bikin tenggorokan kering + kita juga harus jaga kondisi tubuh jangan sampe tubuh kekerangan cairan yang menyebabkan kurangnya konsentrasi d jalan. Setelah istirahat beberapa menit saya dan beberapa brother melanjutkan perjalanan lagi ke arah kota tasikmalaya, kita sempat tanya" dulu ketika masuk kota tasikmalaya selain karena baru pertama ngaspal ke sana kita juga katanya udah di tunggu di tasikmalaya sama brother Byonic Cimahi yang udah start pagi hari. Setelah kontak"an ternyata kita agak telat jadi kloter pertama pagi hari udah melanjutkan perjalanan ke arah  cipatujah.


Engine start gass lagi brew...

Gara-gara telat dari jadwal jadi kita agak terburu ke arah cipatujah, sebetulnya gak terburu buru juga tapi karena rasa penasaran sama pantai yang ada di cipatujah jadi kita sedikit memutar gass agar lebih kencang hahaa. Setengah perjalanan antara tasikmalaya dan cipatujah sudah terlewati di tengah jalan kami berhenti lagi karena kloter pertama ternyata sedang menikmati es dan kopi sambil beristirahat. Saya dan kloter ke dua pun ikut berhenti sembari meluruskan kaki dan menikmati indahnya alam jawa barat. 



Istirahat pun selesai kami pun melanjutkan perjalanan lagi, ada sekitar 30 motor total dari seluruh rombongan. 1 jam berlalu kami pun sampai di cipatujah. Setelah sampai disana kami pun langsung melanjutkan dengan agenda diklat + pelantikan....



See you di next postinglah untuk kelanjutan ceritanya. Udah lumayan larut juga.heuheu.
Aji Wira AE017M Byonic Madiun








Jumat, 08 Maret 2013

Metode Berkomunikasi



Seperti yang dibahas pada blog saya sebelumnya yang membahas tentang argumen, yang berarti kumpulan proposisi, dan proposisi tersebut merupakan premis dan klonkusi.
Premis                : Pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.
Konklusi            : Kesimpulan dari pernyataan.
Ada 3 langkah untuk menganalisis argumen, yaitu:
-Situasi dan Kondisi
-Rekonstruksi –> dengan mengidentifikasi premis yang ada.
-Evaluasi
Dalam berargumen, ada istilah implicature/implikatur.
Implikatur adalah maksud, keinginan, atau ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi.
Contoh :
Ferry     : “Kamu masih disini?”
Dimas   : “Angkotnya jarang ada yang lewat.”
Kalau dilihat dari percakapan Ferry dan Dimas, kita tidak memperoleh keterkaitan. Namun, maksudnya bisa dimengerti oleh partisipan(si pembicara dan lawan bicara). Ferry menanyakan dengan nada keheranan mengapa Dimas masih berada di tempat yang sama. Dimas pun memberikan alasan bahwa masih beradanya dia di tempat yang sama, karena angkutan kota yang diharapkan belum juga menepi. Artinya, implikatur percakapan adalah menerangkan yang mungkin diartikan, disarankan atau dimaksudkan oleh penutur dapat berbeda dengan yang dikatakan oleh kedua penutur.
Dan dalam merespon argumen dengan berpikir secara kritis memiliki beberapa standard intelektual, yaitu
-Clarity   (penjelasan);
3 langkah dalam melakukan clarity : 1. Elaborate (menguraikan)
2. Illustration (menguraikan gambaran)
3. Example
-Precision (ketelitian)
-Accuracy (ketepatan)
-Relevance (sesuai tujuan)
-Depth (kedalaman)
-Breadth (keluasan)
-Logic (masuk akal)
Perbedaan antara precision(ketelitian) dan accuracy(ketepatan):
Accuracy            : Tepat pada inti.
Precision             : Mendekati inti.
Dalam berkomunikasi harus ada sender dan receiver. Sender berfungsi mengirimkan pesan kepada receiver dan receiver yang menerima pesan tersebut dan begitu juga sebaliknya. Jika tidak ada timbal balik maka komunikasi tidak berjalan. Jadi jika kita berkomunikasi harus dengan bahasa yang sama agar komunikasi menjadi lancer, harus ada yang disampaikan dan juga harus ada lawan bicara.
Didalam berkomunikasi juga ada factor internal dan eksternal.
Faktor Internal   : Wawasan, mood, budaya, dll.
Faktor eksternal   : Noise(gangguan).

Berpikir Kritis, Ambiguitas, Argumen dan Retorika


Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang  harus dipercayai atau dilakukan.
Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa sebagai berikut :
  1. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan.
  2. Mencari alasan.
  3. Berusaha mengetahui informasi dengan baik.
  4. Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya.
  5. Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan.
  6. Berusaha tetap relevan dengan ide utama.
  7. Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar.
  8. Mencari alternatif.
  9. Bersikap dan berpikir terbuka.
  10. Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu.
  11. Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan.
  12. Bersikap secara sistimatis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah
Manfaat Berpikir Kritis
  1. Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat argumen
  2. Mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas
  3. Mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif
  4. Membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat
  5. Membiasakan berpikiran terbuka

Ambiguitas

Seperti yang telah kita ketahui bersama, dalam sebuah teks banyak mengandung argumen yang dimaksudkan untuk membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Kali ini kita mencoba untuk memahami maksud yang sebenarnya dari penulis tersebut. Fenomena ini terkadang sulit untuk dipahami karena mereka menghalangi maksud yang ingin disampaikan. Jadi sebagai pemikir yang kritis, kita harus berhati-hati dengan problematika yang ada di dalam kalimat. Seperti adanya kalimat yang ambigu, yaitu kalimat yang memiliki dua makna. Tipe ambigu itu ada dua, ambigu fonetik dan ambigu leksikal. Selain itu ada juga kalimat yang samar, kalimat yang samar ini tidak sama dengan kalimat ambigu. Kalimat samar ini membuat kita sulit untuk mendapatkan satu makna yang tepat dan realistis.


Perhatikan struktur kalimat yang bermakna ambigu berikut ini.
  1. Istri pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya.
  2. Saya telah memiliki buku sejarah demokrasi yang baru.
  3. Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Kalimat-kalimat di atas memiliki makna ambigu (ganda) sehingga dapat membingungkan orang yang membacanya.

Pada kalimat 1, siapakah yang gemuk, pegawai atau isteri pegawai? Kalimat itu memang mengandung dua makna:
  • pertama, yang gemuk adalah pegawai; atau
  • kedua. yang gemuk adalah isteri pegawai.
Pada kalimat 2, apanya yang baru, bukunya, sejarahnya, atau demokrasinya? Kalimat itu bisa bermakna ambigu:
  • pertama, bukunya yang baru;
  • kedua, sejarahnya yang baru; dan
  • ketiga, demokrasinya yang baru.
Pada kalimat 3, juga terdapat makna ambigu:
  • pertama. ada dua kali sumbangan yang diberikan oleh sekolah itu; atau
  • kedua. ada dua sekolah yang menyumbang.
Untuk menghindari ambiguitas makna, kalimat 1 dapat dirumuskan sbb.:
    Jika yang gemuk adalah isteri pegawai, maka dapat ditulis sbb.: Istri-pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya. Penggunaan tanda hubung (-) dapat memperjelas bahwa kedua kata itu (isteri dan pegawai) merupakan satu kesatuan, sehingga kalimat itu bermakna yang gemuk adalah istri pegawai. Atau dapat pula dirumuskan sbb.: Pegawai yang isterinya gemuk itu berasal dari Surabaya.
    Jika yang gemuk adalah pegawainya, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Pegawai yang gemuk itu istrinya dari Surabaya.

    Untuk kalimat 2:
    1. Jika yang baru adalah bukunya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku-sejarah-demokrasi yang baru, atau Saya telah memiliki buku baru tentang sejarah demokrasi.
    2. Jika yang baru adalah sejarahnya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku tentang sejarah-demokrasi yang baru.
    3. Jika yang baru adalah demokrasinya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku sejarah tentang demokrasi yang baru.
    Untuk kalimat 3:
    1. Jika yang dimaksud ada dua kali sumbangan, ditulis sbb.: Sumbangan yang kedua sekolah itu telah kami terima.
    2. Jika yang maksud ada dua sekolah yang menyumbang, ditulis sbb.: Sumbangan kedua-sekolah itu telah kami terima.
    Makna ambigu dapat muncul secara fonetik dan leksikal

    Secara fonetik kegandaan makna terjadi karena adanya persamaan bunyi pada sebagian suku katanya. Beberapa contohnya adalah:
    • 'beruang' bisa bermakna orang yang mempunyai uang atau nama binatang;
    • 'bank' bermakna kitab atau 'bang' bermakna kakak;
    • 'bukan angka' dan 'bukan nangka'.
    Secara leksikal kegandaan makna terjadi karena adanya dua kata yang memiliki bentuk yang sama. Beberapa contohnya adalah:
    • 'buku' bisa bermakna kitab atau ruas;
    • bisa' bisa bermakna dapat atau racun;
    • 'genting' bisa bermakna gawat atau nama atap.

    Argumen

    Argumen adalah rangkaian pernyataan-pernyataan yang mempunyai ungkapan pernyataan penarikan kesimpulan (inferensi). 
    Argumen terdiri dari pernyataan-pernyataan yang terdiri atas dua kelompok, yaitu kelompok pernyataan sebelum kata ‘jadi’ yang disebut premis (hipotesa) dan pernyataan setelah kata ‘jadi’ yang disebut konklusi (kesimpulan).
    Suatu argument disebut valid jika untuk sembarang pernyataan yang disubtitusikan kepada hipotesa, jika semua hipotesa tersebut benar, maka kesimpulan juga benar. Sebaliknya, jika semua hipotesa benar tetapi ada kesimpulan yang salah, maka argument tersebut dikatakan tidak valid (invalid).
    Untuk menunjukan apakah suatu argument valid atau tidak, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menuliskan argument tersebut dalam bentuk simbol-simbol.

    Contoh argumen : 
    1. (premis)    Semua orang pasti pernah ngupil
        (premis)    Jono suka makan upilnya
        (konklusi) Jadi Jono pernah ngupil dan makan upilnya

    2. (premis)    Perempuan adalah pusaka terindah yang pernah ada di seluruh dunia
        (premis)    Susanti adalah perempuan
        (konklusi) Jadi Susanti adalah pusaka terindah yang pernah ada di seluruh dunia

    Retorika

    Retorika atau ilmu komunikasi adalah cara pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan atau metode yang teratur atau baik. Berpidato, ceramah, khutbah juga termasuk kajian retorika. Cara-cara mempergunakan bahasa dalam bentuk retorika seperti pidato tidak hanya mencakup aspek-aspek kebahasaan saja tetapi juga mencakup aspek-aspek lain yang berupa penyusunan masalah yang digarap dalam suatu susunan yang teratur dan logis adanya fakta-fakta yang meyakinkan mengenai kebenaran masalah itu untuk menunjang pendirian pembicara.

    Fungsi Retorika:
    1. Menegakkan kebenaran dan keadilan.
    2. Memberi informasi kepada orang kebanyakan.
    3. Meyakinkan.
    4. Memepertahankan diri dari ketidakadilan